Laman

Jempol Kaki VS CPU

Ulah Si Jempol Kaki

Sabtu, 08 Jan 2011

Malam itu saya dan teman saya sedang asyik browsing di sebuah warnet tempat langganan kami. Tempatnya lesehan, jadi membuat saya nyaman untuk duduk berjam-jam disana sembari browsing. Sistem billing di warnet ini agak unik, yaitu dengan menggunakan kode id dan password tertentu dengan menggunakan beberapa digit huruf tertentu. Nilainya ditentukan dalam sebuah paket online yang isinya sudah berupa lamanya waktu yang akan digunakan untuk online. Jadi, komputer akan otomatis offline jika waktu sudah habis.

Saya dan teman saya masing-masing mempunyai 1 kode id dan password, yang tentunya berbeda. Kami hanya menggunakan 1 komputer secara bersama-sama. Pada awal online, kode id yang digunakan adalah milik saya. Saya pun mulai melakukan aktifitas browsing. Tak terasa waktu sudah habis, tiba-tiba saja komputernya dalam keadaan offline. Berhubung saya masih harus browsing, akhirnya saya menggunakan kode id milik teman saya itu, ia pun mengijinkan. Baru beberapa menit saya online, tiba-tiba saja komputer mati. Saya dan teman saya sama-sama keheranan. Masalahnya, kali ini komputer bukan hanya offline, tapi shutdown. Benar-benar tidak bisa nyala. Perasaan, batas waktunya belum habis. Komputer user yang lain pun masih tetap menyala (jadi engga mungkin kan kalau mati lampu).

Tiba-tiba teman saya menyadari kalu jempol kakinya itu menekan tombol shutdown CPU yang memang letaknya berhadapan dengan posisi duduknya yang menyila. Ya ampuuuuuuuuuuuunnn!! -____-
Kami berdua langsung tertawa terbahak-bahak menyadari hal itu. Ternyata kesalahannya bukan karena billing atau komputer yang rusak, melainkan karena ulah si jempol kaki. Hahaha!! Langsung saja deh saya tekan lagi tombol on pada CPU itu, akhirnya bisa kembali online, hehehe.

Telur Asin Ekonomi

Telur "Ayam" Asin

Saya teringat ketika saya pernah menaiki sebuah kereta api ekonomi tujuan ke kampung halaman saya. Awalnya sih iseng-iseng, selain harganya murah meriah, saya juga penasaran kenapa sih banyak banget yang naik kereta ini. Padahal tempat duduknya sudah penuh semua. Saya pun bersama teman saya (cowok) memberanikan diri untuk mencoba. Sebenarnya teman saya itu sudah pernah naik kereta ini sebelumnya. Dia sudah memperingatkan saya bahwa bisa jadi kami akan berdiri sepanjang perjalanan, selama 5jam. Waw! Antara takut dan penasaran tapi saya iya-kan saja bahwa saya siap menanggung resiko.
Akhirnya, setelah memperoleh tiket dari loket, kami pun beranjak memasuki gerbong kereta.

Ternyata masuk gerbongnya itu bebas alias asal-asalan. Waduh, penuh semua lagi gerbongnya. Para penumpang yang ada di dalam gerbong tidak pandang bulu terhadap penumpang yang memiliki tiket atau tidak. Yang mereka tahu, siapa cepat masuk kereta dia yang dapat tempat duduk. Haduuuh, kami kan telat masuk keretanya. Alhasil kami berdiri deh. Setelah menyimpan barang bawaan kami di atas tempat duduk para penumpang yang kebagian kursi, kami pun benar-benar berdiri di tengah jalan kecil antar tempat duduk penumpang sambil sesekali memiring-miringkan badan kalau ada orang yang hendak lewat. Repoooooot banget. Cuma ya mau gimana lagi. Harus terima resikonya deh kalau udah begini, hmmm.

Tak lama kereta pun mulai berjalan. Keadaan kami tidak berubah, masih tetap berdiri. Saya melihat sekeliling keadaan di kereta. Ada yang sibuk kipas-kipas karena kepanasan. Ada yang asik baca koran. Bahkan ada yang sempat-sempatnya jajan diantara desak-desakan penumpang. Banyak sekali pedagang asongan yang berjualan di dalam kereta. Mulai dari penjual minuman, makanan cepat saji (pop mie, nasi bungkus) sampai pedagang pecel sayur, dan yang engga kalah ketinggalan penjual buah-buahan dan juga makanan ringan pun ada. Mulai dari donat, roti, buah jeruk, nangka, wingko, tahu, telur asin, kacang-kacangan, dan masih banyak lagi. Mereka mondar-mandir ke seluruh gerbong kereta secara bergantian untuk menjajakan dagangan mereka.

Peminat jajanan tersebut banyak sekali. Yang paling laris sih jelas penjual minuman. Karena situasi di kereta yang sangat amat sumpek itu selain bikin gerah, bikin dehidrasi juga, saya aja sampe beli air mineral beberapa kali (4 botol ada kayanya) . Para penumpang juga antusias sekali membeli makanan, harganya murah-murah loh. Nasi bungkus Rp. 3000, donat 1dus isi 6  Rp. 6000, buah nangka 1 pak kecil Rp. 2000, waw murah banget kan. Tapi, untuk kualitas rasa tidak menjamin sepertinya, hehe. Saya tertarik pada penjual telur asin yang menjual telurnya seharga Rp. 5000 untuk 3 butir telur. Wah, biasanya kalau saya beli di warteg 1 butirnya Rp. 2500, kok ini murah banget yaa. Akirnya saya mencoba membelinya untuk dimakan dirumah. Antara senang dan khawatir sih sebenarnya, tapi ya daripada saya penasaran, lebih baik mencobanya. Lagipula engga mahal-mahal amat, hehe.

Ketika saya tiba dirumah, saya mencoba mencicipi telur asin super murah itu. Saya kelupas kulitnya secara perlahan, sembari melihat-lihat siapa tahu ada kejanggalan di dalamnya. Kalau  secara fisik sih tidak ada yang aneh. Lalu saya mulai memakannya. Daaaan, waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, kok rasanya bukan seperi telur bebek yaa? Waduh, ini telur asin beneran bukan sih? Kok rasanya kayak telur ayam. Wah,wah,wah.. saya tertipu. Ternyata itu telur ayam, pantas saja rasanya beda dan baunya kurang amis seperti telor bebek yang biasa saya makan. Hmm, sedikit kecewa sih, tapi yaudalah dimakan aja. Yang penting engga busuk, hehe.
 
Eh, tapi kalau dipikir-pikir..penjual telur asin itu engga bohong sih. Karena telurnya emang beneran asin, bedanya yang dia jual bukan telur bebek, haha. Harusnya lain kali saya tanyakan dulu, “Bu, ini telur asinnya telur bebek apa telur ayam?”, hehe. Yang anehnya, kok warna kulitnya bisa mirip telur bebek yaa??? Wah, mesti diusut ini. Jangan-jangan di cat, atau jangan-jangan pake zat pewarna berbahaya, wah wah wah..  

ACARA DONOR DARAH

DONOR DARAH MASSAL

Suatu hari saya berkunjung ke DETOS (Depok Town Square). Ternyata ada sebuah acara yang sedang diselenggarakan didalam mall. Sebelumnya saya memang sempat mendengar kabar dari teman saya bahwa akan diadakan acara donor darah di DETOS. Waw, ternyata benar. Saya melihat beberapa orang sedang tiduran di matras dan darahnya sedang diambil. Hii, agak menegangkan melihatnya. Biasanya saya hanya melihat kegiatan tersebut di dalam klinik ataupun rumah sakit. Baru kali ini saya melihat kegiatan donor darah massal secara langsung.

Para pendonornya merupakan orang dewasa yang berusia diatas 17 tahun. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin mendonorkan darahnya. Antara lain, harus berusia min.17 tahun, tidak mempunyai penyakit berisiko, untuk wanita harus dalam keadaan sedang tidak haid. Para pendonor berasal dari masyarakat umum, bukan dari kalangan atau organisasi tertentu. Pembawa acara dalam kegiatan ini mengajak para pengunjung DETOS yang berminat untuk mendonorkan darahnya. Dan ternyata mereka memang cukup antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka mendaftarkan diri kepada panitia kemudian duduk sesuai antrian untuk menunggu giliran diambil darahnya.

Acara ini berlangsung hingga sore hari. Meskipun acara hampir habis waktunya, para pendonor masih saja banyak yang mengantri. Ternyata masyarakat Depok jiwa sosialnya cukup mengesankan. Dalam kegiatan ini biasanya orang masih sedikit ragu-ragu. Mungkin ada yang takut darah, ada yang takut suntikan, dsb. Sebenarnya saya juga ingin mencoba, tapi masih ragu, lagipula saya sedang datang bulan, mungkin lain kali bisa, hehe.

Sekilas Natal

CERIANYA NATAL

Detik-detik menjelang natal, beragam acara diselenggarakan di berbagai tempat. Waktu itu ketika saya berkunjung ke Margo City ternyata disana sedang diselenggarakan sebuah acara kreasi anak Indonesia di bidang seni musik dan olah vokal. Anak-anak ini berasal dari sebuah event organizer bidang musik dan vokal bernama Elfa Music School.

Saat saya sampai Margo City, acara ini sudah setengah jalan. Jadi awal mulanya saya kurang begitu tahu deh. Tapi, dari pertengahan acara aja udah kelihatan bagus. Ada yang tampil berkelompok kayak paduan suara, ada yang hanya beberapa orang seperti vocal group (5-8 orang), ada juga yang bernyanyi solo. Usianya pun beragam, mulai dari 6-12 tahun. Untuk kalangan remajanya mungkin ada yang diatas kisaran usia 12, untuk detailnya saya kurang begitu tahu.


 
Dengan tema tidak jauh-jauh dari perayaan natal, selain menyanyikan lagu anak-anak, ada juga yang menyanyikan lagu ceria tentang natal. Acara berlangsung sangat meriah. Uniknya, selain mereka bernyanyi diiringi oleh instrument musik yang indah, mereka juga ikut menari sesuai irama dan alunan musik yang mengirinya. Dengan gerakan yang lucu dan kompak ini, membuat saya tersenyum dan teringat masa kecil saya ketika tampil dalam acara seperti itu. Semua anak tampak ceria menikmati penampilan mereka.



 
Selain para performer merasa puas akan penampilan mereka, para pengunjung yang melihatnya juga terlihat sangat antusias. Mungkin kebanyakan adalah  para orangtua yang ingin menyaksikan penampilan putra-putri mereka.  Para pengunjung begitu terhibur menyaksikan pementasan itu. Acara meriah yang melibatkan anak-anak memang sangat menarik banyak kalangan. Karena sekacau apapun acaranya, selalu saja ada tingkah lucu dari para bocah-bocah belia ini.


 
Semoga berbagai event untuk anak-anak semakin sering diadakan. Mereka akan terampil sejak dini dan akan lebih memotivasi mereka dalam mengembangkan bakat yang dimiliki. Sehingga nantinya, anak-anak Indonesia akan semakin cerdas, kreatif, inovatif dan membanggakan bangsa ini.